Kabupaten Kediri, Kharismanews.id – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kabupaten Kediri mulai memasifkan kampanye edukasi kepada masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai di wilayah Simpang Lima Gumul ( SLG), Jumat 13 /03. Langkah ini diambil guna mengantisipasi lonjakan volume sampah rumah tangga yang biasanya meningkat drastis selama masa ramadhan dan puncak lebaran.
Kepala DLH Kabupaten Kediri Putut Agung Subekti melalui Arman Fuadi S,Sos M.M Kepala Bidang pengelolaan Sampah dan Limbah B3 menyatakan bahwa momentum Ramadhan dan menjelang hari raya sering kali diikuti dengan penggunaan kantong plastik, styrofoam, dan sedotan plastik dalam jumlah besar. Melalui kampanye ini, pemerintah daerah kabupaten Kediri mendorong warga untuk beralih menggunakan kantong belanja ramah lingkungan (reusable bag).
Fokus Utama Kampanye
Beberapa poin utama yang ditekankan dalam sosialisasi kali ini meliputi:
Belanja Bijak: Mengajak masyarakat membawa tas belanja sendiri saat ke pasar tradisional maupun pusat perbelanjaan modern.
Wadah Makanan Reusable: Mendorong penggunaan wadah non-plastik untuk pembagian paket sembako atau hantaran hari raya.
Edukasi Pedagang: Memberikan imbauan kepada pedagang kaki lima dan ritel untuk tidak lagi menyediakan kantong plastik secara gratis.
Pemantauan di Titik Keramaian
Selain edukasi lewat media sosial dan spanduk, DLH juga akan menurunkan tim pengawas di titik-titik keramaian seperti pasar tumpah dan sentra kuliner. Petugas akan membagikan tas belanja kain secara gratis kepada warga sebagai bentuk stimulasi perubahan perilaku.
“Kami ingin Hari Raya tahun ini menjadi momentum bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Kenaikan volume sampah tidak bisa dihindari, namun jenis sampah plastik yang sulit terurai harus kita tekan sejak dari sumbernya,” ujar Arman perwakilan DLH dalam keterangannya.
Melalui gerakan ini, diharapkan masyarakat tidak hanya fokus pada kemeriahan hari raya, tetapi juga menjaga kebersihan kota agar tetap asri dan bebas dari tumpukan sampah plastik yang merusak ekosistem.
(red)