Dua Desa di Tulungagung Terserang Chikungunya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung lakukan fogging untuk memutus mata rantai penularan

TULUNGAGUNG, KHARISMANEWS.ID – Kasus demam chikunguya kembali merebak di Kabupaten Tulungagung. Kali ini terjadi di Desa Samir, Kecamatan Ngunut dan Desa Jatimulyo, Kecamatan Kauman.

Diduga merebaknya demam chikungunya ini dipicu mobilitas penduduk dari luar daerah yang masuk Tulungagung selama arus mudik.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung telah melakukan pengasapan (fogging) untuk memutus mata rantai penularan.

“Kami berharap, setelah fogging tidak ada lagi nyamuk dewasa yang menjadi faktor penyebaran demam chikungunya,” terang Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Tulungagung, Didik Eka, Selasa (2/5/2023).

Didik menambahkan, demam chikungunya disebabkan virus chikungunya yang disebarkan oleh oleh nyamuk aedes aegypti dan aedes albopictus.

Masa inkubasi virus ini cukup pendek, sekitar 4 hari saja.

Sementara jangkauan terbang nyamuk dewasa hanya sekitar 100 meter.

“Jadi kalau ada kasus dengan radius lebih dari 100 meter, diperkirakan ada carrier virus. Ini dimungkinkan manusia yang melakukan mobilitas antar daerah,” ungkap Didik.

Dalam kasus di Desa Jatimulyo ditemukan 21 orang penderita dan di Desa Samir ada 13 warga yang terserang demam chikungunya.

Dari data epidemiologi yang sudah dilakukan, para pasien ini menyebar sehingga menguatkan adanya orang pembawa virus.

Hal ini memungkinkan terjadi, karena banyak warga dari berbagai kota pulang kampung ke Tulungagung saat arus mudik lebaran.

“Carrier ini tidak harus sakit, bisa saja dia kondisinya sehat tapi membawa virus di tubuhnya. Saat ada nyamuk yang menjadi vektor, maka virusnya akan menyebar,” papar Didik.

Selain melakukan fogging, Dinkes juga meminta warga melakukan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

Masih menurut Didik, pada awal April 2023 kasus chikungunya sudah mereda karena saat itu curah hujan sudah jarang.

Namun menjelang akhir April curah hujan kembali meningkat, sehingga banyak tempat berkembang biak nyamuk.

PSN dilakukan untuk menghilangkan tempat perkembang biak nyamuk, seperti kaleng yang terisi air hujan, atau tempat-tempat yang menampung air.

Jika tak ada tempat berkembang biak, diharapkan tidak ada nyamuk baru yang bisa menyebarkan virus chikungunya.

“Jadi kalau pun ada yang membawa virus chikungunya, tapi nyamuk yang menjadi vektor tidak ada, maka virusnya juga tidak bisa menular. Karena penularannya bukan manusia ke manusia secara langsung,” pungkas Didik.

Sebelumnya, sejumlah desa di Kecamatan Ngunut telah mengalami serangan demam chikungunya, seperti Desa Ngunut, Gilang dan Pulosari.

Sementara Desa Jatimulyo, Kecamatan Kauman sebelumnya sudah pernah mendapat serangan chikungunya.

Virus chikungunya menyebabkan penderitanya merasa demam, ruam di kulit dan nyeri persendian di sekujur tubuh.

Bahkan banyak di antaranya yang sampai lumpuh sementara.

Serangan chikungunya terburuk di Kabupaten Tulungagung terjadi di tahun 2015.

Saat itu ada 15 desa terjangkit dengan total penderita mencapai 464 orang.

Tahun 2016, menurun menjadi 3 desa dengan 81 penderita.

Tahun 2017, 2018 dan 2019 Kabupaten Tulungagung sempat bebas dari chikungunya.

Baru di tahun 2020, kembali terjadi serangan di 2 desa dengan 40 penderita.

Tahun 2021, ada 6 desa terjangkit dengan 109 penderita.

Dan tahun 2022 kemarin, ada serangan chikungunya di bulan Juli, dengan 24 penderita.

(sum)