BLORA, KHARISMANEWS.ID – Sebanyak 29.713 peserta yang terdiri dari Kelompok Bermain (KB), Taman Kanak-kanak (TK), dan Raudhatul Athfal (RA) se-Kabupaten Blora serentak mengikuti Festival Mewarnai, pada Rabu (6/12/2023).
Acara yang digelar secara bersamaan pada 16 Kecamatan di Kabupaten Blora ini dalam rangka memperingati hari jadi Blora ke-274 dan sekaligus memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai peserta lomba mewarnai terbanyak.
Kepala Dinas Kabupaten Blora, Yusman Chanafi mengapresiasi terselenggaranya acara tersebut dan berterima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat, sehingga kegiatan dapat berlangsung dengan baik.
“Alhamdulillah, apresiasi yang setinggi-tingginya kepada semua bapak/ibu guru Paud dan terimakasih kepada Jawa Pos, Radar Kudus, atas terselenggaranya acara ini. Sebab, acara ini bisa menumbuhkan rasa percaya diri dan juga kreativitas anak,” tuturnya saat dihubungi Tim Investigasi Siaga Bhayangkara.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, festival mewarnai kali ini dilaksanakan secara serentak dan diikuti oleh seluruh siswa jenjang PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) melalui live zoom di masing-masing kecamatan.
Acara dibuka oleh Bunda Paud, Ainia Arief Rahman, Disaksikan tamu undangan dan utusan dari Muri di Pendopo Rumah Dinas Bupati Kabupaten Blora, serta seluruh peserta di 47 titik lokasi lomba se-Kabupaten Blora melalui live zoom.
Yusman berharap, dengan adanya acara ini program pemerintah Kabupaten Blora dapat terwujud.
“Program Pak Bupati bisa terwujud, yaitu terwujudnya sumberdaya manusia yang cerdas berdaya saing dan berkarakter,” harapnya sekaligus menutup percakapan, Rabu malam (6/12/2023).
Salah satu kecamatan yang turut serta memeriahkan acara tersebut yakni Banjarejo. Sri Hariyani, Pengurus Himpaudi Kecamatan Banjarejo menyebut, ada sebanyak 1.500 lebih peserta yang mengikuti lomba tahun ini dari Kecamatan Banjarejo. Jumlah tersebut terbagi dalam dua titik lokasi, yang masing-masing 900 peserta bertempat di GOR Karangtalun dan sisanya 600 lebih di GOR Plosorejo.
“Pelaksanaan awalnya direncanakan di tiga titik, yaitu di Pendopo Kecamatan, GOR Plosorejo dan GOR Karangtalun. Namun, karena mempertimbangkan efisiensi dan kapasitas tenaga, maka dipisah di dua titik lokasi. Kalau terplencar-plencar nanti kita kesulitan mengcover, jadilah dipilih dua titik,”
jelasnya saat ditemui tim ISB di sela acara.
Dari pantauan tim ISB di lokasi, acara yang bertempat di GOR Karangtalun tampak ramai dipenuhi pengunjung dan peserta.
“Luar biasa ramai sekali, sampai tadi agak kerepotan saat mengatur peserta di pintu masuk,” tuturnya.
Ia menuturkan, ini pertama kalinya kegiatan lomba mewarnai diikuti oleh seluruh siswa tanpa melalui seleksi terlebih dahulu dari sekolah.
“Alhamdulillah, respon orangtua bagus. Mereka antusias mengantarkan dan mendampingi putra-putrinya untuk mengikuti festival.”
Namun demikian, Bunda Ani—sapaan akrabnya—mengaku kesulitan untuk menyeleksi karya peserta sebanyak 1.500 anak dalam waktu bersamaan. Ia berharap, untuk pelaksanaan tahun depan bisa dilakukan seperti tahun-tahun sebelumnya, yaitu diseleksi terlebih dahulu dari sekolah.
“Ya repot, karena kami harus memilih tiga yang terbaik dari 1.500 karya anak. Kalau bisa, tahun depan dilaksanakan seperti tahun-tahun sebelumnya saja, diseleksi dari sekolah dan hanya perwakilan beberapa anak untuk mengikuti lomba di kecamatan,” tutupnya.
Sementara itu, Garyati, Kepala Sekolah TK Al Ikhsan Pulo, Mojowetan, Kecamatan Banjarejo menyebut, hari ini merupakan moment luar biasa karena pertama kali diadakannya lomba serentak pada 16 kecamatan di Kabupaten Blora.
“Luar biasa perjuangannya, mengasyikkan juga, guyub rukun semua bisa berkumpul di sini,” ungkapnya.
Sesuai dengan tagline Kabupaten Blora, yakni ‘Sesarengan mBangun Blora’, di hari jadi Blora yang ke-274 ini masyarakat sama-sama berpartisipasi untuk pembangunan Blora di bidang pendidikan, dengan mendampingi putra-putrinya mengikuti lomba serentak di tingkat kecamatan.
“Terima kasih untuk seluruh pihak yang berpartisipasi, Dinas Pendidikan, dan orangtua khususnya wali murid TK Al Ikhsan Pulo, Mojowetan atas semangatnya yang luar biasa memotivasi anak-anak. Semoga dengan acara ini bisa memberikan dampak positif untuk anak-anak,” tuturnya.
Berbeda dengan Sri Hariyani, Priyati yang merupakan kepala sekolah TK Pertiwi Mojowetan menyebut, bahwa acara seperti ini bisa dilakukan lagi untuk tahun depan, yakni lomba yang diikuti seluruh siswa dari setiap sekolah.
“Semangat orangtuanya luar biasa. Semua ingin anaknya menjadi juara, tetapi tempatnya yang kurang memadai. Kalau tahun depan diadakan lagi, harus mencari tempat yang lebih aman dan lebih nyaman,” ucapnya.
Bu Pri—sapaan akrabnya— mengatakan, dengan adanya kegiatan seperti ini, antusiasme dan semangat orangtua murid dalam memupuk bakat anak-anak sangat luar biasa. Ia juga berterima kasih kepada seluruh wali murid atas kerjasama dan partisipasinya sehingga acara ini dapat terlaksana.
“Sebagai guru, saya berharap untuk ke depannya pelaksanaan seperti ini bisa lebih ditingkatkan lagi agar anak-anak lebih nyaman dan aman.”
Sempat Chaos
Berdasarkan pantauan tim ISB di lokasi, animo masyarakat sungguh luar biasa di acara tersebut. Lebih dari 2.000 peserta dan wali murid tumpah ruah pada satu lokasi di GOR Karangtalun, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora. Hal tersebut menimbulkan pro kontra dari wali murid yang ikut mendampingi peserta di lokasi.
Siti Asiyah, salah satu wali murid di lokasi menyebut, hari ini luar biasa ramai dan agak kerepotan saat menuju pintu masuk area lomba.
“Wah, luar biasa ramainya. Sampai tadi agak repot waktu mau masuk harus berdesak-desakan karena saking penuhnya,” ucapnya.
Menurutnya, dengan orangtua ikut mengantar anaknya sampai ke pintu masuk, menjadi penyebab kepadatan yang mengular.
“Ya, seharusnya guru dengan murid-muridnya saja yang mengantri masuk, jadi bisa lebih tertib,” tegasnya.
Ia berharap, jika tahun depan diadakan lomba seperti ini kembali, panitia agar lebih dipersiapkan segala sesuatunya.
“Saya sebagai orangtua sangat mendukung dengan adanya acara seperti ini. Karena semua siswa memperoleh kesempatan yang sama untuk berekspresi dan menyalurkan minat bakat. Ya, meskipun nggak juara, tapi kan untuk membentuk mentalnya juga pengalaman,” tuturnya.
Berbeda dengan Siti, Munik, wali murid yang mendampingi putrinya di lokasi menyebut, bahwa hari ini cukup chaos. Pasalnya, putrinya sempat rewel karena harus antri dan berdesakan dalam waktu lama dan belum bisa masuk ke area lomba.
“Kasihan anak-anak, tapi saya ajak pulang nggak mau karena antusias mau ikut lomba, tadi ada anak yang baru sembuh dari sakit juga harus berdesakan,” keluhnya.
Ia berharap, tahun depan tidak terulang kekacauan seperti ini. Kepada panitia ia berpesan, untuk lebih mempersiapkan segala sesuatunya sesuai kapasitas peserta. Ia juga berharap kepada pemerintah daerah, untuk mempertimbangkan kenyamanan dan keamanan dalam membuat program untuk anak-anak.
“Yang namanya anak-anak itu harus aman, itu yang pertama, kemudian nyaman. Lha kalau chaos seperti ini kan repot. Jangankan bisa menikmati acara, baru mau masuk saja moodnya sudah anjlok,” tegasnya.
Berbeda dengan Siti dan Munik, Sri, orangtua yang juga mendampingi anaknya justru kecewa, karena harapannya anaknya bisa ikut meramaikan kegiatan tersebut. Namun, harus pulang tanpa sempat mengikuti kegiatan, dikarenakan tidak mau berdesakan mengantri untuk masuk area.
“Mboten purun mlebet, Mbak. Niki malah nyuwun mantuk mawon. (Tidak mau masuk, Mbak. Ini malah ngajak pulang saja,” ungkapnya pada ISB di lokasi acara.
Di tengah berlangsungnya acara, kepadatan mengular akhirnya bisa dikendalikan dengan bantuan tim keamanan dari Babinsa dan Bhabinkamtibmas yang turut mengatur di pintu masuk area festival.
Jurnalis:Mujito